Serba Serbi Di Balik Kuliah Daring Bikin Mahasiswa Pening

Nilanurlimah.com - Bingung adalah kata yang tepat menggambarkan posisi mahasiswa saat baru-baru melakukan perkuliahan daring, baik bingung karena sistem perkuliahan yang baru dari kampusnya, ataupun bingung karena materi tidak tersampaikan dengan jelas, bahkan ada yang berpendapat dengan menyampaikan “Malah bikin makin bego, nggak deng” ucap salah seorang mahasiswa yang aktif dalam mengikuti kelas daring, meski sebuah sarkasme namun suara kecil hati mahasiswa dan mahasiswi dari berbagai kampus di Indonesia ini memiliki kisah unik dan menarik dibalik cerita serta derita kuliah online.

Kebijakan pemerintah Indonesia dalam mengimbangi pendidikan tetap berjalan pada saat pandemi Covid-19 ini adalah dengan “kuliah daring” yang telah diatur dalam Pasal 31 (1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, menyebutkan bahwa pendidikan jarak jauh merupakan proses belajar mengajar yang dilakukan secara jarak jauh melalui penggunaan berbagai media komunikasi.

Serba Serbi Di Balik Kuliah Daring Bikin Mahasiswa Pening

Dimana mahasiswa yang berada di rumah masing-masing tetap dapat melaksanakan pendidikan perkuliahannya meski tidak tatap muka secara langsung, tentunya pemberlakuan sistem ini membuat mahasiswa kebingungan, excited, semakin malas, atau bahkan semakin bersemangat.

Beberapa kisah kecil ini jarang diketahui oleh dosen- dosennya akan tetapi inilah realita yang terjadi, mahasiswa yang berasal dari berbagai kampus (inisial) di Indonesia bersedia memberikan ceritanya mengenai “serba-serbi kuliah daring”.

Diawali dengan kesan mengenai perkuliahan daring di tengah pademi Covid-19, Anathema seorang mahasiswa dari UNTAG Samarinda, “Hmm pengalaman menarik kayaknya cuman waktu pertama kali kuliah online aja, karena baru pertama kali ya kan excited aja bakal gimana setelah itu biasa aja, dan juga saya jarang masuk sih selama kuliah online hehe jadi yaa gitu deh, semoga covid-19 cepat berakhir yaa folks” ungkapnya.

Nampak dari tutur kalimatnya excited atau kegembiraan kuliah online hanya muncul di awal-awal pertemuan saja, sebagai generasi milenial yang sangat tertarik dengan dunia digital internet, tak sedikit dari mereka bergembira bahwa kuliah hanya cukup dari media dengan internet saja, namun ekspetasi berbanding terbalik dengan realita.

”Kesannya kapan lagi kita bisa kuliah sambil kumpul keluarga, makan, tiduran, pake baju tidur, nggak mandi dll. Itu semua kan nggak bakal terjadi kalau kita kuliah tatap muka” ujar salah satu mahasiswi POLTEKESOS Surakarta menanggapi kesannya saat kuliah daring. Masih dengan seputar kesan, selanjutnya Neta mahasiswi UMM, “Menurut saya kuliah daring sama sekali tidak efektif karena ada beberapa dosen yang hanya memberikan tugas tanpa adanya penjelasan materi terlebih dahulu yang membuat mahasiswa kebingungan” ujarnya saat ditanya mengenai kuliah daring.

Tak dapat dipungkiri memang setiap pengajar tentunya akan memiliki sistem Mengajar yang berbeda, atau bahkan perubahan kualitas pengajaran berubah ketika kuliah tatap muka dan kuliah daring karena beberapa faktor dan lain hal, sehingga ia menekankan kata “beberapa” yang memaksudkan bahwa tidak semua pengajar memiliki performa mengajar yang menurun, belum cukup sampai disitu ia juga menambahkan “Dan lagi ada mahasiswa yang tidur, off kamera bahkan tidak mengikuti pembelajaran dan cuma numpang absen setelah pembelajaran selesai, jadi ini membuat mahasiswa semakin bego, nggak deng”, curahan hati kecil yang disampaikanya membuat otak berfikir dan hati merasa bergetar, mungkin ada yang muncul di benaknya bertanya-tanya, atau bahkan sependapat dan “relate”.

Tak luput dengan sedikit kisah kecil yang menceritakan temannya yang sengaja melelapkan diri dalam mimpi sembari kelas daring sedang berlangsung, mungkin kritikan kesannya ini juga ditujukkan kepada teman-temannya yang gemar tidur ketika kelas daring sedang berjalan.

Hampir seluruh kampus di Indonesia memilih menerapkan metode kuliah daring dengan aplikasi Zoom, Google Meet, Google Classroom, namun ada saja cerita yang terselip di dalamnya. Dari kesan-kesan yang terasa “negatif” ini dapat dijadikan benang merah bahwa banyak mahasiswa yang mengeluhkan perkuliahan metode daring ini karena dirasa kurang efektif, dengan maksud dan harapan tenaga pendidik dapat lebih bertanggung jawab atas kewajibannya, namun apa boleh buat halangan pandemi Covid-19 membuat semuanya terpaksa melakukan ini, dan harus menerima konsekuensi yang tak dapat ditemukan solusi lainnya.

Syabina (18 th) seorang mahasiswi dari UB Malang membagikan cerita uniknya yang kurang tepat untuk dicontoh, saat melakukan perkuliahan daring, kesenangannya bermula saat pihak universitas mengumumkan perkuliahan diliburkan karena berhubungan dengan pandemi Covid-19 “Awalnya sih seneng karena libur gitu kan, bisa pulang kampung, ketemu ortu lagi” ujarnya, keputusannya pun untuk pulang ke kampung halamannya sebelum dibuatnya peraturan jangan mudik ketika pandemi Covid-19 masih berlangsung oleh pemerintah, riang gembira yang dirasakan bertemu kembali dengan keluarga sepulangnya dari tanah rantauan, namun saat kuliah daring dimulai kesenangan itu berubah, “bingung” pun adalah kata yang sering ia tuturkan baik karena sistemnya ataupun materi yang tak kunjung sampai ke otak “Kelas daring ini ada saja hambatannya, koneksi yang buruk, rumah mati lampu, rasa kurang excited itu harus dihilangkan agar kelas lebih efektif” tuturnya, menanggapi kelas daring yang banyak dirasa kurang efektif oleh mahasiswa termasuk Syabina, “Ada deng cerita, jadi kan saya ditugasin gitu tugas kelompok buat presentasi”, namun teman kelompok yang dipilih secara acak itu membuat nya kurang nyaman ditambah ia seorang diri wanita ditengah teman kelompok yang beranggotakan banyak laki-laki, alhasil tugas yang diberikan tidak kunjung dikerjakan sama sekali oleh Syabina dan rekan-rekannya, karena merasa rekannya tak ada inisiatif, pun merasa tidak ingin dimanfaatkan karena komunikasi tak berjalan mulus, ia memilih ikut diam.

“Pada hari itu juga kita harus presentasi, tapi belum ada power point-nya” ucapnya, perkuliahan dilakukan dengan media aplikasi Zoom, namun mengingat tugas yang ia buat belum rampung dikerjakan ditambah lagi beberapa halangan, “Terus saya izin ke dosen saya bahwa rumah saya mati lampu, dan kuota saya sisa sedikit, dan kata dosen saya „iya nggak papa‟ gitu deh” jelasnya. Inilah hal yang terjadi apabila komunikasi pun terhambat, tugas terbengkalai. Tak lupa menambahkan sebuah cerita yang dianggapnya cukup penting untuk diutarakan.

“Saya punya satu dosen dimana tidak pernah melaksanakan kelas daring, tapi selalu memberikan tugas tiap minggunya, dimana stress dibuatnya saat mengerjakan tugas tersebut, karena kita juga perlu penjelasan materi agar mahasiswa mengerti materi-materi tersebut” ucapnya, kritik demi kritik yang didengar terhadap serba-serbi kuliah daring selalu saja ada, kembali kepada mahasiswa tidak dapat menyalahkan dosen dan dosen juga tidak sepenuhnya salah, mungkin terjadi miss komunikasi antar dua pelaku komunikasi baik dosen maupun mahasiswa.

Hambatan seorang tenaga didik dalam melakukan kuliah daring tentunya pasti ada, faktor usia dan zaman serta generasi yang tentunya berbeda dengan para mahasiswa yang belia, tak semua dosen fasih menggunakan teknologi yang baru disentuhnya saat tumbuh dewasa, tidak sama seperti para generasi milenial yang sudah disuguhi teknologi sejak lahir. Beberapa dosen yang kurang mengerti dan tidak dapat melakukan metode pengajaran yang cenderung “ribet” memilih untuk mengajar dengan metode-metode lebih mudah dan dimengertinya saja.

Penggunaan aplikasi seperti Zoom, Google Meet, Google Classroom, merupakan media yang dipilih oleh berbagai kampus karena kemudahan dalam aksesnya yang akan membantu baik dosen maupun mahasiswa, memilih bertatap muka atau tidak dengan aplikasi tersebut tentunya kembali lagi dengan pilihan dosen, efektifitas dari tatap muka menggunakan aplikasi tersebut tentunya sedikit meningkatkan efesiensi dari kuliah daring, setidaknya para pendidik dapat melihat apa yang dilakukan oleh mahasiswa ketika kelas sedang berlangsung. Tak dapat dipungkiri bahwa penggunaan aplikasi yang berbasis chat, ataupun video call meningkat drastis selama pandemi ini.

Kisah kecil selanjutnya berasal dari Dewi Widyanata, seorang mahasiswi dari UBAYA Surabaya, menceritakan pengalaman teman kelas nya yang sangat menggemparkan kelas online-nya, “biasanya kan kalau mau nanya harus unmute dulu, baru bisa bertanya ke dosen” diumumkanlah beberapa peraturan dalam melakukan kuliah daring via Google Meet atau group video call, antara lain adalah mematikan suara mikrofon, dan menyalakan ketika ingin bertanya. “Jadi dosen aku emang udah biasa ngeliat mahasiswanya mematikan kamera, dan suara, nggak tau deh apa aja yang mereka lakukan”, tuturnya.

Saat itu ada seorang teman nya yang ingin bertanya, kemudian pertanyaan pun sudah dijawab oleh dosennya namun setelah pertanyaannya dijawab teman Dewi ini nampaknya lupa Untuk kembali menonaktifkan mikrofonnya lagi, mulai dari sini terdengar suara “sesuatu” yang janggal, terdengar ada suara mirip dengan “flush” dari kloset yang berbunyi sontak membuat terkejut rekan-rekan kelas yang sedang menyimak materi dari dosen. Dan benar saja dapat ditebak bahwa teman Dewi ini sedang melakukan salah satu aktifitas di toilet disaat kelas daringnya masih berlangsung. “Terus dosenku ketawa deh, dan nanyain dia, eh tapi temenku kayaknya masih belum sadar” jelasnya.

Cerita-cerita dan hal menarik ini pasti akan sangat sulit untuk dilupakan ketika mengingat “Kuliah Daring” banyak hal menarik lainnya yang tidak tersorot, serba-serbi ini hanyalah sebuah pengalaman dan opini dari segelintir mahasiswa. Waktu yang terus bergulir tentunya tak akan membuat kuliah daring dilakukan selama-lamanya. Kebijakan dan peraturan dari pemerintah pun ikut jadi pertimbangan kampus mengembalikan perkuliahan seperti semula (tatap muka). “New normal” kalimat yang baru-baru ini muncul sebagai istilah yang akan digunakan dalam mengembalikan keadaan setelah diberlakukannya Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) di beberapa wilayah di Indonesia.

Desas-desus syarat dikembalikannya pemberlakuan kuliah tatap muka sebagai akhir cerita dari kisah kuliah daring pun juga menjadi kebingungan bagi mahasiswa untuk kembali ke tanah rantauannya untuk kembali kuliah. Masih tak banyak kampus yang telah “menyudahi” kuliah daring, namun sebagian besar kampus di Indonesia belum mengkonfirmasi kembalinya perkuliahan dengan istilah “New Normal”.

Ditanya mengenai perkara pemberlakuan kuliah normal “Untuk kampus ku sendiri sih belum ada info untuk syarat-syarat khusus balik ke Solo, karena posisinya sekarang kita lagi libur akhir semester. Dari banyak berita yang aku baca di Solo sendiri belum memperbolehkan segala sarana pendidikan, semuanya baru akan berjalan normal di akhir tahun *menurut cerita sih gitu. Jadi, sekarang juga aku dan teman-temanku lagi nunggu info yang pasti buat balik ke solo” ungkap Dilla (18th) mahasiswi POLTEKES Surakarta.

Kisah kuliah daring yang tentunya akan menjadi sebuah sejarah dalam dunia pendidikan, termasuk di Indonesia. Keadaan yang membuat menjadi keterpaksaan dan manusia yang berusaha memperjuangkan, tak luput dari kesalahan, pemerintah, tenaga didik, dan seluruh lapisan masyarakat Indonesia memperjuangkan negaranya dengan segala upaya termasuk kuliah daring ini.

Ibarat pepatah “habis gelap terbitlah terang” akan terjadi kembali di Indonesia. Meski jauh dari kata efektif, pandemi ini dapat menjadikan pihak tenaga didik pembelajaran serta pembenahan agar terwujudnya efektifitas dalam metode perkuliahan, generasi muda akan akan lebih tangguh dan siap menghadapi era teknologi yang semakin pesat.

Cerita unik dan menarik ini pun menjadi saksi bisu perjuangan, tetap belajar menjalankan sistem pendidikan di Indonesia dikala pandemi wabah Covid-19. Ditanya mengenai perkara pemberlakuan kuliah normal “Untuk kampus ku sendiri sih belum ada info untuk syarat-syarat khusus balik ke Solo, karena posisinya sekarang kita lagi libur akhir semester. Dari banyak berita yang aku baca di Solo sendiri belum memperbolehkan segala sarana pendidikan, semuanya baru akan berjalan normal di akhir tahun *menurut cerita sih gitu.

Jadi, sekarang juga aku dan teman-temanku lagi nunggu info yang pasti buat balik ke solo” ungkap Dilla (18th) mahasiswi POLTEKES Surakarta. Kisah kuliah daring yang tentunya akan menjadi sebuah sejarah dalam dunia pendidikan, termasuk di Indonesia. Keadaan yang membuat menjadi keterpaksaan dan manusia yang berusaha memperjuangkan, tak luput dari kesalahan, pemerintah, tenaga didik, dan seluruh lapisan masyarakat Indonesia memperjuangkan negaranya dengan segala upaya termasuk kuliah daring ini. Ibarat pepatah “habis gelap terbitlah terang” akan terjadi kembali di Indonesia.

Meski jauh dari kata efektif, pandemi ini dapat menjadikan pihak tenaga didik pembelajaran serta pembenahan agar terwujudnya efektifitas dalam metode perkuliahan, generasi muda akan akan lebih tangguh dan siap menghadapi era teknologi yang semakin pesat. Cerita unik dan menarik ini pun menjadi saksi bisu perjuangan, tetap belajar menjalankan sistem pendidikan di Indonesia dikala pandemi wabah Covid-19. Hasil Karya Dari ACHMAD FAHREZA Fikom Unisba.

Tidak ada komentar untuk "Serba Serbi Di Balik Kuliah Daring Bikin Mahasiswa Pening"