PENGARUH COVID-19 TERHADAP KEHIDUPAN MAHASISWA

NilaNurlimah.com - Tahun ini menjadi tahun yang berat untuk hampir seluruh lapisan masyarakat didunia. Awal tahun saja sudah dibuka dengan hujan besar yang membuat beberapa daerah diIndonesia terendam banjir.

Disusul berita duka dari meninggalnya beberapa pesohor dunia, kasus yang baru baru ini terjadi ditengah pandemi Amerika menimbulkan banyak demonstrasi tentang rasisme atau kesetaraan yang terjadi di hampir seluruh dunia dengan tagar #BlackLivesMatter dengan misi misi mereka adalah memberantas supremasi kulit putih, dan membangun kekuatan lokal untuk melawan kekerasan yang menimpa masyarakat kulit hitam yang juga diikuti beberapa influencer dan aktivis aktivis sosial di Indonesia, masalah kesehatan dunia yang juga mengguncang Indonesia bahkan hingga saat ini, Virus COVID-19.


“Ini bisa jadi waktu yang tepat untuk aku memperbaiki diri dan lebih banyak bersyukur atas apa yang sudah terjadi sejauh ini. Semoga saat corona ini beres, aku bisa jadi pribadi yang lebih baik lagi.” – Sandra Azizah,19

COVID-19 mengejutkan Indonesia di bulan Maret dengan diumumkannya dua orang warga negara Indonesia yang terjangkit virus ini yang pertama ditemukan di Wuhan, China pada akhir tahun lalu. Virus ini merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas ringan hingga sedang, seperti penyakit flu.

Dapat menyebar melalui percikan air liur pengidap seperti batuk dan bersin, bersentuhan tangan atau wajah dengan orang yang terinfeksi atau menyentuh mata, hidung, atau mulut setelah memegang barang yang terkena percikan air liur pengidap virus corona. Orang dengan kekebalan tubuh yang lemah lebih rentan terhadap serangan virus ini.

Awalnya, virus corona jenis COVID-19 diduga bersumber dari hewan. Masa inkubasinya belum diketahui secara pasti. Namun, rata- rata gejala yang timbul setelah 2-14 hari setelah virus pertama masuk ke dalam tubuh. Di samping itu, metode transmisi COVID-19 juga belum diketahui dengan pasti.

Wabah Corona ini telah mengubah wajah dunia. Hingga pbb pun berpendapat ini bisa memicu konflik dunia, sejak menjadi isu serius ‘pembunuh’ umat manusia dan mempengaruhi manusia dalam menjalankan aktivitas kehidupannya. Termasuk dalam aspek pendidikan dan sosial yang dirasakan mahasiswa asal Bandung beralmamater Universitas Telkom ini, Sandra Azizah mengemukakan pendapat dan keluhannya terkait kehidupannya yang berubah drastis akibat pandemi ini.

Ia setuju bahwa virus korona ini merupakan suatu hal yang tidak bisa kita hindari karena sudah mutlak takdir tuhan. Namun banyaknya teori konspirasi yang muncul dimasyarakat memang sedikit meresahkan, yang cenderung menyepelekan virus dan menyalahkan petinggi dunia yang sengaja merancangnya. “Kalau akusih percaya ini virus nyata yang memang lama kelamaan akan menghilang atau sebaliknya, tubuh kita jadi kebal dan jadi penyakit biasa kaya flu atau demam.” Menurut Sandra. Tapi tak bisa dipungkiri bahwa jalan terbaik untuk saat ini adalah menjalankan dan mematuhi peraturan yang ditetapkan ditiap daerah kita tinggal. Dan tetap menjaga kesehatan seperti yang disosialisasikan WHO.

Jika membahas dampaknya dari aspek kehidupan sosial, menurutnya masalah ini benar benar mengacaukan beberapa rencana rencana yang sudah jauh hari dipersiapkan. Padahal bersosialisasi merupakan salah satu cara untuk mengurangi tingkat tekanan mental yang dirasakan anak muda jaman sekarang dari hiruk pikuknya kehidupan perkuliahan. “Jujur untuk saya pribadi ini merupakan beban tersendiri ya, apalagi saat kita punya masalah terus kita ketemu sama oranglain itu kita bisa jadi lebih fresh karena kita kan bisa sharing sama oranglain atau bisa saling tuker energi. Tapi sekarang cuma bisa diem dirumah yang ga jarang malah bikin keadaan mental semakin memburuk.” Keluhnya.

Untuk tetap menjaga komunikasi dengan dunia luar ia mengatakan untuk terus menjalin komunikasi sekecil apapun tanpa putus melalui sosial media walaupun terbatas namun ini saatnya kita bersyukur karena banyaknya sosial media yang ada untuk berinteraksi secara tidak langsung dengan bertatap muka lewat video, menelfon ataupun hanya sekedar melalui pesan teks.

Dalam aspek Pendidikan pun, khususnya kehidupan perkuliahan ini harus dijalanin dengan metode Kulon atau Kuliah Online yang dilakukan tanpa bertatap muka secara langsung melainkan melalui beberapa aplikasi video atau melalui powerpoint yang dosen berikan. Meskipun terlihat lebih mudah dilakukan ketimbang harus memakan waktu menuju kampus dan kuliah offline, sebenarnya kuliah online ini memiliki banyak kendala yang dirasakan hampir seluruh mahasiswa.

“Bebannya lebih besar sih, walaupun alhamdulillah nilai aku ga turun tapi memang sulit banget ngejalaninnya. Kalau ada diskusi atau kerja kelompok itu sangat terbatas waktunya dan harus mengikuti jadwal teman yang lain dengan kesibukannya masing masing dengan tugas mata kuliah lainnya juga. Ditambah koneksinya yang ga selalu bagus.”

Menurutnya juga, beberapa dosen malah terlalu membebani dengan tugas yang hampir tidak pernah berenti, cukup membuat beban dan stress. “Aduh, kalu udah banyak tugas makin stress deh dirumah karena ga ada hiburan malah adanya tugas terus.”

Ditambah kegiatan pembelajarannya pun kadang tidak seefektif saat kuliah offline dengan beberapa masalah yang mengikutinya. “Kuliah online ga 100% yang dosen sampein bisa tersampaikan dengan baik, mungkin hanya sekitar 20% saja karena masalah waktu, sisanya ya gak pada ngedengerin karena ketiduran bosen abisnya interaksinya kurang dan koneksi nya suka jelek, itu sih sering banget.” Tambahnya.

Kesalahan teknis seperti aplikasi atau webnya yang mengalami gangguan karena terlalu banyak yang mengakses dalam satu waktu, itupun menjadi keluhan yang dirasakan banyak mahasiswa. Juga beberapa dosennya sendiri belum bisa beradaptasi dengan sistem perkuliahan yang ada sehingga materi kurang tersampaikan dengan sebaik kuliah offline juga interaksi antara dosen dan mahasiswa nya kurang.

Jadi banyak sekali materi yang kurang dimengerti, dan kesulitan untuk bertanya karena tidak semua dosen merespon pesan dengan cepat. “Kemarin juga di Telkom itu yang biasanya ga pernah open book ujiannya, jadi open book tapi banyak banget kendala, kaya miskom sama dosennya. Sedangkan kan dosen gak selalu buka hp ya.” Menurutnya, Korona ini bukan hanya meresahkan dalam aspek ekonomi yang menurun tapi juga dalam aspek pendidikan dan sosial, juga beberapa kesehatan mental karena mayoritas masyarakat Indonesia terbiasa hidup diluar rumah dan berinteraksi secara langsung jadi sangat rentan masalah mental seperti, stress, emosi tidak teratur dan masalah lainnya yang timbul.

“Yang pacaran juga nih, pada banyak banget problem.” Tidak banyak orang yang mengalami kesulitan mengendalikan emosi sehingga merasakan sangat tidak nyaman dan sangat terbebani dengan pandemi ini yang mengakibatkan timbulnya masalah dalam berinteraksi sosial. Entah dalam rumah dengan keluarga, atau dengan oranglain melalui media sosial.

Menurutnya saat saat seperti ini kita harus lebih pinter dalam mengendalikan emosi diri sendiri dan belajar self healing, tidak perlu mencari pengalihan masalah dengan berkumpul dengan teman teman tapi menyembuhkan diri sendiri. Disaat saat seperti ini juga kita dapat lebih mengenal diri sendiri dan banyak bersyukur atas apa yang sudah terjadi selama ini. “Positifnya jadi lebih banyak intropeksi dan jadi lebih banyak berysukur, oh ini kemarin tuh aku lagi jerawatan, pernah kena body shaming orang, jadi sekarang abisin waktu untuk memperbaiki diri juga.”

Banyak hal positif yang bisa dilakukan selama pandemi didalam rumah untuk membantu mengurangi beban mental. Melakukan perubahan yang lebih baik pada diri sendiri, seperti melakukan perawatan tubuh dan wajah, berolahraga, diet atau belajar memasak. Banyak hal hal dan kegiatan yang bisa dilakukan saat ini yang tidak sempat dilakukan sebelumnya, belajar memasak, belajar make up dan hal lainnya yang bukan merupakan kebiasaan kita tapi ternyata bisa menyenagkan dilakukan. “Ambil hikmahnya, ini bisa jadi waktu yang tepat untuk aku memperbaiki diri dan lebih banyak bersyukur atas apa yang sudah terjadi sejauh ini. Semoga saat corona ini beres, aku bisa jadi pribadi yang lebih baik lagi.” Tutupnya.

Hasil Karya Dari Salma Luthfia Adriana FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG 2020.

Tidak ada komentar untuk "PENGARUH COVID-19 TERHADAP KEHIDUPAN MAHASISWA"