Dampak Covid-19 terhadap bisnis coffee shop

Nilanurlimah.com - Covid-19 atau yang kita kenal sebagai virus corona memang menjadi momok menakutkan bagi Sebagian besar masyarakat dunia. Virus yang berawal dari kota Wuhan menjalar ke seluruh dunia hingga dinyatakan Covid-19 menjadi pandemic.

Virus yang menyerang organ paru-paru ini telah menyerang 6,7 juta orang dan sampai saat ini masih bertambah. Menurut sumbernya korban meninggal mencapai 202 ribu orang (kompas.com) yang terbagi dalam beberapa usia.

Betapa mengerikannya virus ini hingga membuat negara-negara di dunia memberlakukan system lockdown. Yaitu negara-negara tersebut tidak mengizinkan orang dan warga negara tersebut harus mengikuti protokol untuk tidak keluar rumah. banyak negara-negara yang berhasil memberlakukan sistem ini.

Tapi tidak dengan Indonesia, negara kita ini adalah negara yang memiliki kepulauan yang banyak dan tiap daerah nya berbeda-beda. Maka pemerintah Indonesia memberlakukan sistem yang berbeda tiap daerahnya. Salahsatu sistem untuk melawan virus ini bagi Indonesia yaitu dengan melakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang berdampak pada banyak hal termasuk industri kopi yang beberapa tahun terakhir sedang naik-naiknya.

Beberapa tahun kebelakang memang industri kopi sedang naik-naiknya. Seperti banyak nya kedai-kedai coffe shop yang mulai betebaran di berbagai penjuru jalanan di Indonesia. Semakin banyaknya coffe shop yang dapat di jumpai menjadi sebuah tantangan bagi pengusaha-pengusaha yang mengucurkan dana untuk sebuah coffe shop. Mereka berlomba- lomba menjadikan coffe shop tempat yang nyaman untuk nongkrong dan yang pasti membuat tempat mereka menjadi “instagramable”.

Kopi menjadi sebuah life style baru bagi beberapa anak muda yang menghabiskan waktunya untuk nongkrong bersama teman di kedai kopi yang di desain senyaman mungkin.

Hal tersebut menjadi boomerang pada saat pandemic corona sekarang. Dimana kebijakan pemerintah pusat yang mengharuskan pembatasan sosial berskala besar dan kebijakan pemerintah daerah yang mengharuskan penjual makanan yang berpotensi menciptakan kerumunan di haruskan tutup sementara.

Kedai-kedai kopi harus menutup usaha nya sementara mengikuti aturan pemerintah daerah yang menyebabkan tidak adanya pemasukan bagi kedai tersebut. Karna kita tahu bahwa pemasukan dari kedai kopi berasal dari pengunjung yang membeli kopi di tempat itu.

Saya melakukan interview dengan seorang pengusaha muda sekaligus teman saya yang sudah 2 tahun membangun usahanya dan telah menghabiskan uang yang tidak sedikit harus tutup sementara pada saat covid-19 ini.

Gio sapaan akrab dari pemilik kedai kopi di daerah Ciparay, kabupaten Bandung. Sebuah tempat yang strategis karena masih jarang nya coffe shop di kabupaten yang mengusung tema industrial ini. Telah membangun usahanya dari 2018 hingga sekarang.

Dia menceritakan tentang kebijakan-kebijakan pemerintah tentang pembatasan sosial berskala besar di daerah kabupaten Bandung. Bagaimana dia harus “kucing- kucingan” dengan satpol PP dalam menjual kopi dan mendatangkan konsumen karna pemasukan yang berkurang hampir 75%. Dampak dari pemasukan yang berkurang itu Gio harus merumahkan beberapa karyawannya dan memotong gaji karyawannya.

Dia mengatakan alasan kenapa tetap menjual dan memperbolehkan konsumen datang karena ada karyawan yang harus di gaji. Lalu dia menjelaskan setelah gaji karyawan terpenuhi dia membuat kebijakan untuk kedai tersebut yaitu “take away only”. Orang-orang yang tetap menginginkan kopi dapat membeli melalui aplikasi go-food atau grab food. Selain take away only Gio sebagai pemilik sekaligus barista di kedai tersebut pada saat pandemi ini lebih ketat dalam hal kebersihan. Dengan mengikuti protokol pemerintah yang mengharuskan kita cuci tangan dengan sabun maka dia membuan kran air beserta sabun nya di depan kedai tersebut agar konsumen yang datang terlebih dahulu cuci tangan sebelum masuk ke kedai.

Akan tetapi ada hal positive yang di dapatkan pada saat pandemi ini, salah satunya mulai berinovasi menciptakan coffe yang dapat di simpan di kulkas dalam bentuk botol 1 liter dan juga menciptakan kue agar menjadi paket dalam pembelian kopi, ucap Gio.

Gio berharap agar pandemi ini segera selesai karna apabila terus seperti ini ada kemungkinan usaha nya akan gulung tikar. Dan tetap Gio selalu berucap ikuti protokol yang ada seperti cuci tangan pakai sabun, selalu menggunakan masker apabila keluar rumah, dan selalu jaga Kesehatan.

Hasil Karya Dari Dyanza Nurtaqy Zakarya Fikom Unisba.

Tidak ada komentar untuk "Dampak Covid-19 terhadap bisnis coffee shop"